Showing posts with label Al-Quran. Show all posts
Showing posts with label Al-Quran. Show all posts

Bermain Badminton Dan Bakar Pijak Al-Quran Di Masjid






dalam sibuk kite update pasal MH17 .
puak kafir laknatullah..
sedang bergembira bermain badminton dalam masjid ..
aktiviti memijak dan membakar Al-Quran diteruskan..
nampaknye plan mereke mengalih pandangan kite terhadap isu Palestine berjaya





Jihad Menurut Al-Quran















Isu Jihad

9:20
A020
(Sesungguhnya) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka adalah lebih besar dan tinggi darjatnya di sisi Allah (daripada orang-orang yang hanya memberi minum orang-orang Haji dan orang yang memakmurkan masjid sahaja); dan mereka itulah orang-orang yang berjaya. 



17:9
A009
Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk ke jalan yang amat betul (agama Islam), dan memberikan berita yang mengembirakan orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal-amal soleh, bahawa mereka beroleh pahala yang besar.


49:15
A015
Sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka (terus percaya dengan) tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya).

25:52
A052
Oleh itu, janganlah engkau (Wahai Muhammad) menurut kehendak orang-orang kafir, dan berjuanglah dengan hujjah-hujjah Al-Quran menghadapi mereka dengan perjuangan yang besar dan bersungguh-sungguh.

13:21
A021
Dan orang-orang yang menghubungkan perkara-perkara yang disuruh oleh Allah supaya dihubungkan, dan yang menaruh bimbang akan kemurkaan Tuhan mereka, serta takut kepada kesukaran yang akan dihadapi semasa soaljawab dan hitungan amal (pada hari kiamat); -

17:11

A011
Dan manusia berdoa dengan (memohon supaya ia ditimpa) kejahatan sebagaimana ia berdoa dengan memohon kebaikan, dan sememangnya manusia itu (bertabiat) terburu-buru.

Jihad menurut AL-QURAN ialah tanpa pertumpahan darah, namun ia telah disalah erti oleh kebanyakan umat Islam hari ini. Bangsa Palestin yang tidak beriman dengan AL-QURAN telah kafir kepada ajaran Islam yang asal. Itu merupakan azab kepada mereka.

Foto Sebenar Makcik Korea Pakai Baju Al-Quran





Pengguna laman sosial digemparkan dengan penyebaran foto seorang wanita tanpa segan silu memakai baju bertulis ayat suci Al-Quran. Orang awam yang melihat kejadian itu mempersoalkan tindakan wanita berkenaan yang didakwa tidak menjaga sensitiviti umat islam.
Inilah gambar wanita memakai baju yang tertera ayat Al-Quran seperti yang tersebar di laman sosial:
Dan ini pula penjelasan sebenar disebalik isu ini:
Ternyata, wanita tersebut tidak sedar atau mungkin tidak faham apa yang tertulis pada baju tersebut dan tidak wajar sekiranya kita bertindak menyalahkan beliau dalam hal ini.
Dalam hal ini, pereka baju tersebut juga harus dipersalahkan kerana membuat baju yang sedemikian rupa.
Apa pula pendapat anda?

sumber: wowberita.org



Batu Ababil Seperti Dalam Al-Quran Ditemui Bernilai USD 4 Juta






Temukan batu Ababil, warga Saudi tolak uang Rp 38,8 miliar

Merdeka.com - Masih ingat dengan kisah pasukan gajah yang hendak menyerang Kabah tetapi digagalkan oleh sekelompok burung ababil? Nah pada 11 November 2012 silam, seorang pria Saudi bernama Saleh Al Musfer Gamdi mengaku menemukan batu yang diduga dipakai oleh sekelompok burung ababil mengusir pasukan gajah.

Batu itu ditemukan Gamdi ketika tengah melakukan perjalanan berburu di pegunungan terjal di dekat perbatasan dengan Yaman. Batu berwarna gelap itu diakuinya dalam Al-Qur'an.

Batu itu diklaim Gamdi terkait dengan peristiwa gajah. Karena pada batu temuannya terdapat gambar gajah dan burung, dengan berat batu itu sendiri 131 gram. Ini sama persis seperti yang dituliskan dalam surat Al-fil mengenai kisah pasukan gajah dan burung ababil.

Seperti diketahui ayat itu menyebutkan, Allah SWT mengirim burung ababil untuk melemparkan batu Sejil (kerikil neraka) untuk menghancurkan tentara yang dipimpin oleh panglima perang Yaman, Abrahah sebelum munculnya Islam untuk merobohkan Kabah di Mekkah. Surat AL-fil sendiri memiliki arti gajah, sebab saat itu merupakan tahun gajah.

Gamdi mengatakan, menemukan batu keras hitam kelabu itu di bagian selatan Jarb lembah. Daerah ini dulunya diketahui sebagai Green Wadi, yang tak lain tempat Abrahah dan tentara gajah itu tinggal selama jangka waktu tertentu sebelum menuju Mekkah.

"Setahun setelah saya menemukan batu, saya meminta seorang teman Mesir yang kerabat bekerja di bidang arkeologi. Mereka menghubungi saya dan meminta saya untuk mengirim mereka gambar dari batu itu," kata Gamdi seperti dikutip dari Emirates247.com, Sabtu (12/7).

Dia menambahkan, kendati tak menjelaskan secara detail terkait kisah itu, tetapi para ahli memperkirakan umur batu itu hampir 1.442 tahun. Sementara itu, kabar penemuan batu yang dianggap memiliki nilai historis tinggi itu sontak menyebar ke seluruh penjuru Saudi.

Setahun kemudian, Gamdi mengaku pernah ditawari USD 4 juta atau sekitar Rp 38,8 miliar untuk batu itu tetapi Gamdi menolaknya. Bahkan dinas pariwisata memintanya untuk menyerahkan batu itu pun ditolaknya.

"Setelah serangkaian pesan dan panggilan telepon, mereka mengatakan mereka akan membeli batu untuk USD 4 juta tetapi saya menolak untuk menjualnya. Beberapa saat kemudian, departemen pariwisata di Baha (Saudi Arabia selatan) meminta saya untuk menyerahkan batu tetapi aku lebih lagi menolak," katanya saat itu.

Kisah Abrahah dimulai ketika dia merasa iri kepada Kabah kerap dikunjungi oleh banyak orang Arab yang ingin berziarah setiap tahun sebelum Islam. Dia memiliki keinginan yang besar untuk menghancurkan dan mengalihkan jamaah Arab ke Yaman, yang memiliki sebuah gereja besar yang dibangun oleh Abrahah.

Abrahah merasa yakin bahwa dia akan dapat menghancurkan Kabah dengan sangat mudah. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya? Bantuan Tuhan tiba menurut Al-Quran. Burung-burung ini melemparkan banyak batu-batu dari tanah liat yang dilempar kepada tentara Abrahah yang menunggangi gajah dan ini yang menyebabkan kekalahan dan kehancuran mereka sebelum mereka berhasil merobohkan Kabah.



Dewi Sandra Bermain-Main Dengan Al-Quran






.
Pelakon dan penyanyi Dewi Sandra tidak malu mengakui bahawa dia tidak pandai membaca Al-Quran dan masih dalam proses memantapkan bacaan kitab suci umat Islam itu.
Dewi bagaimanapun berkata, peranan berlakon dalam drama bersiri 'Catatan Hati Seorang Isteri' (CHSI) yang memerlukannya membaca Al-Quran dalam beberapa babak drama itu membuka peluang untuknya mempelajari Al-Quran.
"Pada mulanya saya bimbang juga tapi ini mungkin cara Allah menunjukkan jalan untuk saya mula mempelajari kitab tersebut," jelasnya.
Demi peranan Hana dalam CHSI, Dewi berkata, dia akhirnya mula mempelajari membaca Al-Quran dan mengakui pembacaannya kini semakin baik.
"Saya mula dari bawah dan tiada apa yang ingin saya malukan kerana akhirnya jalan untuk belajar itu sudah terbuka," ujarnya.
Pelakon jelita itu sebelum ini mengejutkan semua pihak apabila meninggalkan imej seksi dan tampil imej menutup aurat.




Terjemah Al-Quran 72 Bahasa






Pengguna telefon bimbit kini boleh memuat turun al-Quran di Masjidil Haram.
 
 
MAKKAH: Kerajaan Arab Saudi membangunkan sistem teknologi yang membolehkan pengguna telefon pintar memuat turun perisian al-Quran di Masjidil Haram.


Wakil Presiden Hal Ehwal Masjidil Haram, Ali Hamid Al Nafji memaklumkan al-Quran dengan terjemahan 72 bahasa asing tersebut kini boleh dimuat turun dengan mudah oleh jemaah.

Beliau berkata, mereka juga telah menambah 4,000 rak untuk menempatkan 950,000 al-Quran di dalam Masjidil Haram.

Sementara itu, pihak berkuasa dilaporkan sedang membuat persiapan akhir untuk menangani kemasukan ratusan ribuan jemaah umrah menjelang Ramadan.

"Sebanyak 2,000 kamera pengawasan ditempatkan di beberapa lokasi strategik di dalam Masjidil Haram dan kawasan sekitar Makkah," kata jurucakap polis.

Menerusi Arab News, polis trafik juga mengeluarkan arahan melarang kenderaan masuk kawasan sekitar Masjidil Haram bagi mengelakkan kesesakan. - Sumber MSTAR




24 Orang Anak Opick Semuanya Belajar Al-Quran






GHANIYA sewaktu berduet dengan Opick untuk lagu Sahabat Sejati yang merupakan ciptaannya.
SIAPA yang tidak kenal dengan Opick yang begitu sinonim membawakan lagu-lagu berbentuk ketuhanan. Kelunakan suara dan penghayatan dalam menyampaikan bait-bait lirik lagu merupakan kekuatan yang dimiliki oleh penyanyi ini.
Lagu-lagu pemilik nama sebenarnya Aunur Rofiq Lil Firdaus yang berasal dari Jawa Timur ini sering kali mendapat tempat di hati pendengarnya di Malaysia.
Dalam kesibukannya bergelar penyanyi dakwah, Opick bersama isterinya, Dian Rusita Ningrum turut sibuk menjaga anak-anak yatim di rumah mereka yang terletak di Jakarta Timur yang dipanggil Baitul Umah.
“Saya mengambil anak-anak angkat dan menjaga mereka di dalam satu rumah bersama-sama keluarga saya. Anak kandung saya sendiri ada empat orang dan ditambah lagi dengan 20 orang anak-anak yang saya jaga ini akan dididik untuk pandai mengaji al-Quran dan belajar bersolat.
“Mereka bukan sahaja anak yatim piatu malah ada sahaja anak-anak jalanan fakir miskin yang dititipkan kepada saya untuk dijaga. Jika saya tiada di rumah, ada beberapa ustaz yang akan mengalas tugas mengajar itu semua. Setakat ini Alhamdulillah, kesemua anak-anak sudah mulai pandai menghafaz beberapa juzuk al-Quran," jelasnya lebih lanjut.
Duet bersama anak
Kehadiran Opick yang popular dengan lagu Rapuh ke sini adalah untuk mempromosi album terbaharunya yang berjudul Sahabat Sejati yang turut memuatkan 10 buah lagu dan dia mengambil masa selama enam bulan bagi menghasilkan album ini.
“Semua lagu-lagu dalam album ini mempunyai cerita sendiri, antaranya saya menceritakan tentang kerinduan terhadap Tuhan, tentang nasihat dan juga tentang taubat," katanya.
Selain Sahabat Sejati, lagu-lagu lain yang turut dimuatkan ke dalam album ini ialah Maha Pemurah, Tuhan Beri Kami Cinta, Sentuh Aku, Kembalilah dan banyak lagi.
Untuk album ke-10 miliknya itu, Opick turut berduet dengan anak perempuan sulungnya, Ghaniya D’Salma Firdaus atau lebih senang dipanggil Ghaniya yang baru berusia 11 tahun.
Ke mana tumpahnya kuah kalau tidak ke nasi, ternyata Ghaniya memiliki bakat sama seperti ayahnya itu. Buktinya, paduan suara mereka boleh didengar melalui lagu yang juga merupakan single Opick bertajuk Sahabat Sejati yang dihasilkan sendiri oleh anaknya.
Buat penyanyi berusia 40 tahun ini, dia sama sekali tidak menghalang anaknya itu untuk terus menyanyi sama sepertinya apabila dewasa kelak.
“Sejujurnya, isteri saya menyuruh dia menyanyi di awal usia enam tahun lagi, tetapi saya katakan tunggu dahulu, biar dia sudah pandai menulis lagu sendiri, barulah saya izinkan.
“Kini dia sudah pandai menghasilkan beberapa buah lagu dengan usahanya sendiri. Ini merupakan penampilan pertamanya bersama saya," kata Opick ketika ditemui di majlis pelancaran albumnya baru-baru ini.
Ghaniya ketika ditanya, berkata, dia menulis lagu sejak usia lapan tahun lagi dan sehingga kini dia telah berjaya menghasilkan lima buah lagu dan salah satunya adalah lagu Sahabat Sejati.
“Saya dapat idea untuk buat lagu-lagu ini semua ketika berada di taman atau di mana-mana sahaja. Sejurus saya dapat ilham itu, terus tercipta untuk membuat lagu," katanya.
Sementelahan lagi, jika kita lihat drama-drama di kaca televisyen, banyak memainkan lagu-lagu Opick sebagai muzik latar cerita mereka dan sudah pasti empunya lagu ini ada komennya tersendiri.
“Saya tidak menghalang mereka melakukan itu dan saya berasa syukur dan Alhamdulillah kerana mereka percaya kepada lagu-lagu saya dan bermanfaat buat mereka," ujarnya.
Album yang diterbitkan oleh Tombo Ali Production dan diedarkan oleh Inteam Records dengan kerjasama Sony Music Malaysia ini, telah pun berada di pasaran Malaysia.
Selain itu, peminat-peminat Opick turut boleh dapatkan album ini melalui atas talian di www.inteammobile.com dengan harga hanya RM25.90.




Johan Tilawah Al-Quran 2014






Johan Qari dan Qariah dari Malaysia, Ahmad Tirmizi Ali, 29, dan Hanim­zah Jalaluddin, 32, bersama piala yang dimenangi mereka selepas Majlis Tilawah dan Hafazan Al-Quran Peringkat Antarabangsa ke-56 di Dewan Merdeka, Pusat Dagangan Dunia Putra (PWTC), Kuala Lumpur, malam ini.

- Foto Mohamad Shahril Badri Saali. - Berita Harian Online.




Kaum Luth Kembali

Rev Ou Yang Wen Fen
Samada disedari ataupun tidak, pada bulan kemerdekaan baru-baru ini masyarakat Malaysia yang berbilang kaum dan agama telah dipaparkan dengan kisah Rev Ou Yang Wen Fen, seorang paderi Kristian rakyat Malaysia yang telah mengumumkan secara terbuka pertunangannya bersama kekasih lelaki sejenisnya dari Amerika Syarikat, Phineas Newborn.
Bahkan beliau juga merancang untuk mengadakan majlis perkahwinannya secara besar-besaran di sebuah hotel terkemuka di Kuala Lumupur pada satu masa nanti. Rev Ou Yang Wen Fen juga pernah menimbulkan kontroversi apabila beliau telah mengasaskan sebuah gereja gay di Kuala Lumpur pada tahun 2007 yang turut dikecam oleh beberapa pihak yang prihatin.
Manakala, media cetak dan elektronik di Malaysia kini pula hangat memperkatakan penganjuran sebuah konsert besar-besaran akan diadakan di Genting Highland pada 22hb November 2011 yang akan menonjolkan Elton John, seorang penyanyi gay yang menjadi ikon di kalangan masyarakat antarabangsa terutamanya di kalangan generasi muda.
Beberapa pertubuhan Islam yang prihatin telah menyuarakan kebimbangannya menular budaya jelek ini ke dalam masyarakat di negara kita telah mengadakan bantahan dan desakan supaya dibatalkan konsert besar-besaran ini.
Pada ketika ini, ramai pihak yang mempertahankan hak penganjuran konsert ini dengan berpaksikan hujah bahawa rakyat Malaysia adalah masyarakat yang berbilang kaum dan agama. Masing-masing mempunyai hak untuk berhibur dan tiada sebarang larangan bagi agama masing-masing. Bahkan beberapa pertubuhan politik seperti DAP, Gerakan dan MCA juga telah menyatakan bahawa mereka bersependirian terhadap konsert Elton John ini.
Ironinya, ada pula suara-suara sumbang di kalangan umat Islam yang menyokong penganjuran konsert seumpama ini. Manakala ada pula orang Islam yang berpandangan bahawa konsert ini harus dianjurkan dengan syarat ianya hanya untuk masyarakat non-Muslim sahaja.
Isu yang ingin diutarakan di sini adalah bukan untuk mengenepikan hak-hak individu kepada masyarakat non-Muslim tetapi lebih kepada membenteras kepada promosi budaya songsang yang jelas terlarang. Isu ini juga akan memberikan mesej yang mudah disalah-ertikan kepada masyarakat Islam yang merupakan penduduk majoriti di Malaysia yang sedia meletakkan Islam sebagai agama persekutuan, menurut perkara 3 Perlembagaan Persekutuan.
Ini adalah satu daripada ratusan sebab akan kenapa umat Islam perlu bersepakat ketika mendepani isu dan agenda bersama. Cukuplah dengan kepincangan generasi muda kita di sana sini dan janganlah hendaknya kita membiarkan keadaannya menjadi semakin parah.
Adakah kita ingin membiarkan budaya hedonisme yang menonjolkan penyanyi gay ini terus mendapat tempat dan menjadi kebiasaan di bumi Malaysia.
Samada kita sedari atau tidak, gejala terlaknat ini sebenarnya sedang berkembang secara terancang di bumi Malaysia. Keadaannya semakin membimbangkan apabila tumbuhnya kelab-kelab gay dan juga lesbian yang melata seumpama cendawan selepas musim hujan.
Jika kita perhatikan kepada kandungan kisah yang tersebut di dalam Al-Quran, Allah telah menyatakan tentang kehancuran yang diberikan terhadap Kaum Nabi Lut yang mengamalkan seks sejenis ini.
Firman Allah;
“Kaum Nabi Lut telah mendustakan peringatan dan amaran. Sesungguhnya Kami telah menghantarkan kepada mereka angin ribut yang menghujani mereka dengan batu kecuali keluarga Nabi Lut. Kami selamatkan mereka (dengan menyuruh mereka keluar dari situ) pada waktu jauh malam sebagai limpah kurnia dari kami. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya Nabi Lut telah memberi amaran kepada mereka mengenai azab seksa kam tetapi mereka tetap mendustakan amaran-amaran itu” (Surah Al-Qamar : 33-36)
Dengan amalan seks sejenis yang dilakukan oleh kaum Lut itu menyebabkan Allah SWT telah menghancurkan mereka dengan menterbalikkan negara mereka lalu dihujankannya sehinggakan negara itu bertukar menjadi laut.
Jelas betapa hancurnya kaum Nabi Lut disebabkan pengamalan seks terkutuk yang diamalkan oleh mereka. Kehancuran yang sama juga tidak mustahil boleh menimpa bumi Malaysia sekiranya pengamalan seks terkutuk ini tidak dibenteras oleh ibu-bapa, guru-guru, para ilmuan, penguat kuasa undang-undang & agama dan kerajaan.
  • Bagi mereka yang terlibat, bertaubatlah dan kembalilah ke pangkal jalan yang diredhai Allah swt.
  • Kepada para ibu-bapa, jagalah pembesaran & pergaulan anak-anak anda.
  • Buat para pendidik, perhatikan perkembangan semasa anak-anak didik anda.
  • Kepada para VIP, janganlah sekali-kali anda melindungi amalan terkutuk golongan ini.
  • Bagi pengamal media, janganlah hendaknya anda terbabit menyebar-luaskan agenda jahiliyah yang semakin subur ini.
  • Kepada para ulama dan ilmuan, marilah bersama berganding bahu membimbing dan perbetulkan masyarakat yang dicintai.
  • Kepada NGO dan badan Islam, kita tidak punyai banyak masa untuk menangguhkan pertemuan, perbincangan dan kerjasama bagi membangunkan kembali umat yang disayangi ini.
  • Kepada pihak kerajaan, dengarlah keluhan ini dan urusan selanjutkan kami serahkan kepada anda yang telah dipertanggung-jawabkan.
Ya Allah selamatkan kami dari malapetaka kejahilan umat ini….

Adab Ketika Bergurau

KEHIDUPAN zaman ini memaksa manusia mengejar masa serta menyelinap segenap ruang yang ada bagi memenuhi tuntutan rohani dan material menyebabkan kurangnya waktu diperuntukkan untuk bersantai menjalin hubungan silaturahim sesama sendiri.
Usahkan dengan jiran tetangga, malah ahli keluarga sendiri pun ada kalanya payah untuk bergurau senda. Ada kala lucu pula apabila mengingatkan betapa pergerakan manusia hari ini terbatas oleh tuntutan tanggungjawab melampaui masa yang ada.
Justeru, ramai yang memaksimumkan manfaat hubungan maya untuk melanjutkan komunikasi dan bertanya khabar. Malah, ada ibu bapa yang hanya sempat bertegur sapa dengan anak di laman sosial saja.

Penulis tidak bermaksud melanjutkan bicara mengenai komunikasi era ini, tetapi naluri manusia memerlukan gurau senda untuk mengeratkan hubungan baik dan merapatkan silaturahim. Bukan saja mengelakkan kesunyian, gurau senda juga memudahkan komunikasi, membuatkan bicara tidak formal.
Walaupun gurau senda membantu menguatkan kasih sayang, ia juga boleh meranapkan silaturahim jika gurau senda menyebabkan ada pihak berkecil hati. Ada antara kita bergurau tanpa menyedari ada hati terluka.
Sebab itu banyak contoh ditonjolkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat mengenai gurau senda yang membuatkan orang ketawa dan berkisar kepada perkara yang benar. Rasulullah SAW tidak mencipta kisah lucu yang sia-sia semata-mata untuk membuatkan orang ketawa kerana Baginda takut ketawa menyebabkan umat Islam lalai daripada mengingati Allah.
Rasulullah SAW bersabda yang mafhumnya: “Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu banyak ketawa kerana sesungguhnya banyak ketawa itu mematikan hati.” (Hadis riwayat Al-Imam At-Tirmidzi)
Jangan berlebihan dalam bergurau senda sehingga menyebabkan ada orang terasa dirinya diaibkan atau dijadikan misalan sehingga memalukan dirinya. Sebaliknya, gurau senda dijadikan salah satu cara menghiburkan hati yang lara atau menyenangkan orang berduka.
Tetapi perlu diingat, gurau senda itu mestilah berkenaan perkara yang benar. Gurauan boleh menyebabkan seseorang mendapat pahala atau dosa.
Contohnya, jika gurauan boleh menyenangkan hati, mengeratkan silaturahim dan perpaduan serta kasih sayang, maka gurauan itu menjadi perbuatan baik yang diganjarkan dengan pahala dari Allah SWT.
Sebaliknya jika gurauan menjadi alasan untuk menyakitkan hati seseorang, ia sudah tentu menjadi perbuatan yang dikutuk Allah SWT. Jangan pula tabiat bergurau senda untuk menyakitkan hati orang lain menjadi kebiasaan menyebabkan seseorang itu tiada rasa bersalah mengutuk atau menghina.
Firman Allah yang bermaksud: “Wahai orang beriman! Janganlah sesuatu puak daripada lelaki mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki lain kerana harus puak dicemuh itu lebih baik daripada mereka dan janganlah pula sesuatu puak daripada perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan perempuan lain kerana harus puak yang dicemuh itu lebih baik daripada mereka, dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengah yang lain dan janganlah kamu panggil memanggil antara satu sama lain dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan buruk sesudah dia beriman dan ingatlah sesiapa yang tidak bertaubat daripada perbuatan fasiknya maka merekalah orang yang zalim.” (Surah Al-Hujuraat, ayat 11)
Contoh paling baik ialah gurauan Rasulullah SAW kerana Baginda masih mengekalkan had dan batasan antara lelaki dan wanita serta menyelitkan unsur nasihat bertujuan mengingatkan manusia kepada Allah.
Sudah tentulah gurau senda tetap tidak mengizinkan perlakuan tidak manis antara lelaki dan wanita, seperti menyebut perkataan memalukan mana-mana pihak, menghina atau meniru suara atau kata-kata orang lain dengan niat merendah-rendahkan atas faktor perbezaan jantina.
Antara senda gurauan Rasulullah SAW seperti diceritakan al-Hasan, seorang perempuan tua datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah! Berdoalah kepada Allah SWT supaya aku dapat masuk syurga. Maka Rasulullah SAW bersabda: Wahai ibu pulan! Sesungguhnya orang tua tidak boleh masuk syurga. Lalu menangislah si perempuan tua itu. Dengan segera Rasulullah SAW bersabda: Khabarkan kepada perempuan itu sesungguhnya dia tidak akan masuk syurga dalam keadaan dia tua.”
Lalu dibacakan firman Allah SWT yang maksudnya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan isteri mereka dengan ciptaan istimewa serta Kami jadikan mereka sentiasa dara, yang tetap menjadi jodohnya serta sebaya umurnya.”
Nik Salida Suhaila Nik Saleh 

JALAN PINTAS MENDIDIK ANAK

Anak-anak adalah pewaris kepimpinan generasi yang akan datang. Tiada aset yang lebih besar bagi seorang ibu dan ayah selain daripada memiliki anak-anak yang menjadi. Tugas mempastikan bahawa anak-anak ini akan ‘menjadi’ adalah peranan kita semua.
Firman Allah swt yang bermaksud:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah at-Tahrim ayat 6)

Namun kita tidak punyai jalan pintas bagi memiliki anak-anak yang baik dan ‘bermenjadian’. Langkahnya bermula seawal memperbaiki diri sendiri.
  1. Ianya harus bermula dengan membina & memperbaiki diri sendiri.
  2. Kita mesti memilih bakal ibu atau bakal ayah yang berwawasan yang akan bersama mendidik anak-anak.
  3. Pendidikan berpanjangan sepanjang mengandung dan menyambut kelahiran.
  4. Hak setiap anak-anak bagi memiliki nama yang baik.
  5. Setiap anak yang membesar harus dibajai untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya dan mencintai ajaran Islam.
  6. Rasa kasih sayang tidak menghalang anak-anak daripada di’hukum’ dengan menghadkan kemewahan kehidupan dan kebebasan globalisasi
  7. Bajet perbelanjaan yang ‘secukupnya’ harus disediakan untuk membesar dan mendidik anak-anak melebihi kos kemewahan kehidupan yang lainnya.
  8. Didik anak-anak dengan memiliki kehidupan yang ber’misi’ dan ber’visi’ agar terus membesar sambil menyumbang terhadap kepedulian umat.
  9. Anak-anak yang soleh dan solaheh serta ‘berkemenjadian’ adalah anugerah Ilahi dan kesungguhan bermunajat kepadaNya seharusnya dilatih agar kita semua berupaya memiliki kemanisannya.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa,” (Surah al-Furqan ayat 74).
By: Dr Zainur Rashid Zainuddin

 

Tips Anak Soleh

Anak adalah rezeki daripada Allah yang sudah selayaknya pasangan suami isteri bersyukur atas rezeki berkenaan. Dalam surah as-Syura ayat 49 dan 50, Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Ia kehendaki. Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa yang Ia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis lelaki dan perempuan (kepada siapa yang Ia kehendaki). Dan Dia menjadikan mandul kepada siapa yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Antara bentuk rasa syukur adalah mengambil berat persoalan anak. Dengan demikian, terjalin hubungan harmoni dalam keluarga, lahirlah anak yang taat kepada dua ibu bapanya serta terbentuklah watak anak salih yang dapat membangunkan agama, bangsa dan negara.
Islam adalah agama yang sempurna. Islam sudah mengajar seluruh aspek kehidupan, termasuk hak anak yang perlu dipenuhi oleh kedua ibu bapa. Antara hak anak dalam Islam iaitu hendaklah mencari pasangan yang baik buat anak yang bakal dilahirkan hasil daripada perkahwinan. Rasulullah SAW sudah mengajar pemuda yang ingin berkahwin agar memilih wanita yang salihah.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Seseorang wanita itu dinikahi kerana empat perkara: kerana hartanya, kerana kedudukannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Pilihlah wanita yang beragama, maka engkau akan beruntung – Hadis riwayat al-Bukhari.
Kedua, hendaklah membaca doa sebelum melakukan hubungan badan agar terhindar daripada gangguan syaitan. Rasulullah SAW telah mengajar kepada kita seperti dalam satu hadis Baginda bersabda: “Sekiranya seseorang di antara kamu ketika hendak mendatangi isterinya, maka hendaklah ia membaca: “Bismillah, Allahumma jannibnas Syaitana wajannibis syaitana ma razaktana. Maksudnya: Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah syaitan daripada kami dan jauhkanlah syaitan daripada apa yang Engkau rezekikan kepada kami.
Jika Allah takdirkan (dengan hubungan tersebut lahir) seorang anak, maka syaitan tidak boleh memudaratkannya.” – Riwayat al-Bukhari.
Ketiga, hendaklah mengambil berat bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Perhatian itu sama ada kesihatan bayi yang dikandungnya, mahupun sifat-sifat yang akan diturunkan daripada ibu kepada anaknya.
Keempat, seorang ibu hendaklah sedar terhadap apa yang dikerjakan sehariannya agar tidak melakukan perkara buruk yang akan berpengaruh kepada bayinya nanti.
Kelima, hendaklah menerima dengan senang hati bayi yang dilahirkannya sama ada perempuan atau lelaki. Kerana ada di kalangan pasangan yang tidak suka jika lahir anak perempuan. Sikap ini adalah sifat jahiliah yang perlu dijauhi. Orang Quraisy pada zaman jahiliah apabila lahirnya anak perempuan, maka mereka membunuhnya. Begitu juga kadang-kadang Allah SWT menguji ibu dan ayah dengan anak yang kurang sempurna seperti buta, bisu, pekak. Sekiranya ibu bapa itu menerima dengan berlapang dada, maka ia tetap berasa senang. Namun, sekiranya ibu bapa tidak senang menerimanya, ia boleh membawa kepada penceraian atau pembunuhan pada anak tersebut.
Keenam, memberi nama anak yang baik. Sesungguhnya anak berhak untuk diberi nama yang baik dan bagus didengar. Nama itulah yang akan mewakili dirinya untuk kehidupannya kelak. Oleh itu, janganlah tersalah memberi nama. Janganlah diberi nama yang ada unsur menyamai dengan agama lain atau ahli maksiat dan orang yang terkenal kejahatannya. Berilah nama yang dianjurkan seperti nama yang menunjukkan perhambaan kepada Allah, nama Nabi dan orang yang salih.
Ketujuh, memberikan anak itu rasa aman dan tenteram daripada hal yang menakutkan dan perkara yang boleh merosakkan akidahnya. Jangan suka menakutkan dengan mengatakan kepadanya ada hantu kerana ia boleh merosakkan mental dan agamanya.
Kelapan, memberi pendidikan agama yang cukup. Kesembilan, menjaga kesucian anak itu dengan menikahkannya sekiranya rasa perlu dan mampu untuknya.
Demikianlah antara hak-hak anak. Wallahua’lam

 

Falsafah Kalimah Syahadah



Assalamualaikum wbh,
Pintu masuk Islam adalah kalimah syahadah. Ini merupakan fakta yang diketahui umum. Apabila seseorang itu mengucapkan dua kalimah syahadah, maka sucilah dia dari dosa-dosanya yang lepas, diharamkan dirinya untuk dibunuh oleh Muslim yang lain, wajib ke atasnya solat lima waktu, berpuasa, zakat dan haji. Wajib juga ke atasnya menurut segala yang diarahkan Allah swt, dan juga meninggalkan segala yang dilarang Allah swt.
Dua kalimah yang pendek dan ringkas ini, nyata-nyata mempunyai pengertian dan falsafah yang sangat mendalam, yang mana mampu menambahkan keimanan, keyakinan dan iktiqad seorang Muslim. Di dalam tulisan kali ini, penulis ingin mengajak kita bersama menghayati falsafah dan makna dua kalimah syahadah La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah.
Sebagaimana kaedah yang selalu penulis gunakan di tulisan-tulisan yang lepas, kali ini juga kita akan menggunakan kaedah yang sama, iaitu kita akan melihat satu per satu perkataan-perkataan di dalam dua kalimah syahadah serta hikmah dan pengajaran di sebaliknya, insyaAllah.

Kalimah syahadah La Ilaha Ilallah, terbahagi kepada dua bahagian:-
1) La ilaaha (An-Nafyu, iaitu penafian)
Selalu diertikan dengan ‘tiada Tuhan’. Namun pengertian ini tidak begitu tepat, kerana perkataan ‘Tuhan’ di dalam bahasa Arab ialah ‘Ar-Rob’, sebagaimana di dalam surah Al-Fatihah, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin”, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam’. Adapun perkataan ‘ilah’, sebagaimana di dalam syahadah bermaksud ‘Tuhan yang selayaknya disembah’. Oleh itu, la ilaaha bermaksud ‘tiada Tuhan yang selayaknnya disembah’.
Adapun bahagian pertama kita kenali sebagai An-Nafyu, iaitu penafian, kerana di dalamnya kita menafikan akan wujud sebarang Tuhan yang layak disembah, dan ditujukan segala amal ibadah.
2) Illa Allah (Al-Itsbaat, iaitu penetapan)
Diertikan dengan maksud ‘melainkan Allah’. Terdapat dua pandangan dari nama datangnya kalimah nama ‘Allah’ itu sendiri, iaitu:-
i) pendapat pertama, mengatakan bahawa perkataan Allah itu berasal dari perkataan ‘Ilah’ yang penulis tuliskan di atas. Dari kata akar ‘Ilah’, datang perkataan Allah. Pendapat ini bukan pendapat yang tepat.
ii) Pendapat kedua, mengatakan bahawa perkataan Allah itu singular, dan plural bagi perkataan Allah ialah ‘Ilah’. Ini juga merupakan pendapat yang kurang tepat.
iii) Adapun pandangan yang ketiga, merupakan pendapat Al-Imam Syafi’e rahimahullah, dan juga majority para ‘ulama, iaitu perkataan Allah itu tiada kata asalnya, dan tiada sebarang perkataan lain yang terbit dari perkataan Allah. Bahkan Allah itu merupakan namanya yang agung, sebagaimana Dia memperkenalkan diriNya kepada Adam, dan juga sebagaimana Dia menggelarkan diriNya di dalam kitab-kitab yang diturunkanNya. Ini merupakan pandangan yang paling tepat dan paling cantik, bersesuaian dengan Allah yang Maha Esa dan mutlak kuasaNya ke atas segala sesuatu, selayaknya dengan kemuliaanNya.
Rukun atau bahagian kedua ini, dipanggil ‘Al-Itsbaat’, iaitu penetapan, kerana di dalamnya kita menetapkan kepercayaan ‘selain Allah’. Bahagian kedua ini, datang secara bersusulan dengan bahagian yang pertama, ‘La Ilaaha’ tadi.
Mengapakah kalimah syahadah ini datang dengan dua bahagian, iaitu penafian, dan kemudian penetapan?
Ini adalah kerana pernyataan yang datang secara gandingan penafian dan penetapan, merupakan pernyataan yang paling kukuh dan tepat. Sebagai contoh, kita katakan,
‘Azri ada di dalam kelas’.
Pernyataan ini menyatakan bahawa Azri ada di dalam kelas, akan tetapi dalam masa yang sama ia tidak menafikan kehadiran orang lain, atau dengan kata lain, mungkin bersama-sama Azri itu, ada orang yang lain di dalam kelas tersebut. Begitu juga kita katakan,
‘Tiada sesiapa pun di dalam kelas’.
Kenyataan ini menyatakan bahawa tiada sesiapapun di dalam kelas, iaitu menafikan secara 100% kehadiran seorang manusia pun di dalam kelas.
Sekarang, cuba kita gandingkan,
‘Tiada seorang manusiapun di dalam kelas tersebut, melainkan Azri’.
Secara tepat dan mutlak, kita fahami dari ayat ini bahawa Azri ada di dalam kelas, wujud, dan tiada seorangpun manusia yang lain selain dari Azri di dalam kelas. Struktur yang kukuh inilah yang digunakan Allah swt di dalam kalimah syahadah, iaitu,
‘Tiada Tuhan yang selayaknya ditujukan segala bentuk ibadah, melainkan Allah’.
Kerana itulah, kita katakan bahawa pernyataan ini adalah struktur yang paling kukuh di dalam menetapkan tiada Tuhan yang selayaknya disembah, melainkan Allah.
Penulis merasakan juga bahawa penting untuk kita ketahui tauhid apakah yang terkandung di dalam syahadah ini. Sebelum itu, secara ringkas akan penulis bawakan tiga pembahagian tauhid, iaitu:-
i) tauhid rububiyah, iaitu tauhid ketuhanan. Sebagaimana namanya, tauhid ini merupakan keimanan manusia bahawa Allah lah Tuhan yang menciptakan bumi dan langit serta segala apa yang ada di dalamnya, seluruh perkara ghaib, dan juga sekalian alam-alam yang kita ketahui dan tidak ketahui, seperti alam rahim, alam roh, alam akhirat, alam barzakh, alam manusia, alam jin dan lain-lain lagi. Tauhid ini merupakan tauhid yang am, kerana hatta orang-orang kafir juga terkandung di dalam hati mereka tauhid ini. Firman Allah swt, “Dan jikalau engkau bertanya kepada mereka (hai Muhammad), ‘siapakah yang mencipta bumi dan langit?’ Secara pasti, mereka akan menjawab ‘Allah’”.
Begitu juga dengan hal Iblis, dia juga beriman dengan tauhid ini. Firman Allah swt tatkala Iblis enggan sujud kepada Adam as, “Engkau (Ya Allah) MENCIPTAKAN DIA (ADAM) DARI TANAH, DAN KAU CIPTAKAN AKU DARI API”. Perhatikan dengan teliti bahawa secara langsung Iblis mengiktiraf bahawa Allah swt lah yang telah menciptakan dirinya dan juga Adam as.
Oleh kerana itu, bukan tauhid ini yang kita katakana terkandung di dalam syahadah kita ‘La Ilaaha Illa Allah’.
ii) tauhid asma’ wa as-sifaat, iaitu tauhid nama-nama dan sifat-sifat Allah. Tauhid ini bermakna kita beriman dan mengakui bahawa Allah mempunyai sifat-sifat dan nama-nama yang baik, 99 yang kita ketahui, dan juga nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ghaib dan tidak kita ketahui. Kita hanya mengetahui 99 daripadanya, kerana itu sahaja jumlah yang dibertahukan kepada kita oleh Allah di dalam Al-Quran, dan Rasulullah saw di dalam hadis baginda. Adapun yang selebihnya tidak kita ketahui.
Iblis juga beriman dengan tauhid ini. Firman Allah swt “Dia (Iblis) berkata: Maka dengan KEKUATANMU, (aku bersumpah) akan aku sesatkan mereka (Adam as dan keturunannya) kesemuanya”.
Perhatikan bahawa Iblis bersumpah menggunakan nama dan sifat Allah, iaitu kekuatan (‘Izzah), dan ini merupakan sebahagian dari nama dan sifat Allah. Maka kerana itu, kita katakana bahawa bukan tauhid ini yang kita selitkan di dalam syahadah kita.
iii) tauhid uluhiyyah, iaitu tauhid yang bersifat ‘Ilah. Perhatikan di dalam perbincangan di atas, ‘Ilah itu bermaksud ‘tiada Tuhan yang selayaknya disembah’. Maka dengan itu, pengertian tauhid ini ialah tauhid mengesakan Allah swt, dengan mengakui dengan hati kita bahawa Dialah satu-satunya Tuhan yang selayaknya disembah, dan ditujukan segala bentuk amalan kita, samada keimanan kita denganNya, solat, puasa, haji dan zakat kita, kesemuanya adalah demi Allah swt, tiada selain dariNya.
Tauhid inilah yang membezakan kita dengan orang kafir, kerana hanya orang Islam yang mukmin sahaja yang menujukan segala ibadah mereka hanya kepada Allah Yang Satu.
Maka dengan itu, tauhid jenis inilah, yang kita sertakan di dalam ucapan kita, “Tiada Tuhan yang selayaknya ditujukan segala ibadah kita, melainkan kepada Allah”.
Adapun syahadah kedua, ‘Muhammadur Rasulullah’, ia tidak mempunyai perbahasan yang kukuh dan mendalam sepertimana halnya syahadah pertama.
Ini adalah kerana Yang Esa itu hanyalah Allah swt, adapun para rasul datang dengan silih berganti. Ucapan Muhammad Rasulullah merupakan ucapan yang khas bagi kita umat Muhammad. Ini kerana ucapan beriman dengan rasul ini, silih berganti dengan nabi yang diutuskan kepada umat tersebut.
Sebagai contoh, umat nabi Nuh as akan mengucapkan ‘was asyhadu anna Nuh Rasulullah”, ‘dan aku bersaksi bahawa Nuh itu rasulullah’. Begitu juga dengan umat Musa as, ‘was asyhadu anna Musa Rasulullah’, umat nabi Isa as ‘was asyhadu anna Isa Rasulullah’, dan begitulah dengan kita, ‘was asyhadu anna Muhammada Rasulullah’.
Maka andaikata kita cuba menghuraikan dua kalimah syahadah secara terperinci, maka ianya adalah:
“Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan yang selayaknya aku tujukan segala bentuk amal ibadahku, dari hatiku, lidahku, amalanku, melainkan kepada Allah, dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu pesuruh Allah, yang telah Allah lantik untuk menyampaikan risalah dan syariatNya, dan dengan pengakuan ini aku cerminkan di dalam setiap tingkah laku seharianku sebagai orang yang berserah diri kepada Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah saw”.
Persoalan terakhir, apakah kaitannya di antara dua kalimah syahadah dan amal ibadah kita?
Penulis teringat satu falsafah dan pandangan yang dikemukakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau menyebut bahawa syarat diterima ibadah kita oleh Allah swt, mempunyai dua syarat yang boleh kita fahami dari dua kalimah syahadah yang mana kita berpegang dengannya, iaitu:-
i) dari syahadah pertama, la ilaaha illa Allah, terkandung di dalamnya ikhlas. Dan ikhlas yang dimaksudkan di dalam pengertian syariat ialah tauhid, bukan ‘membuat sesuatu tanpa mengharapkan balasan’. Itu cuma merupakan istilah awam yang kita guna pakai seharian.
Ertikata ikhlas yang sebenar, sebagaiman firman Allah swt, “Dan tidaklah mereka (manusia) itu diarahkan (dengan sesuatu), melainkan agar mereka menyembah Allah dengan hati yang ikhlas kepadanya, agama yang murni”.
Al-Quran sendiri telah menafsirkan ertikata ikhlas ini, di dalam surah yang sangat masyhur, iaitu “Qul huwaallahu ahad, Allahus samad, Lam yalid walam yuulad, walam yakuullahu kufuan ahad”. ((Katakanlah (hai Muhammad) bahawa Allah itu Esa, Allah tempat meminta, Dia tidak melahirkan (anak) dan tidak pula Dia dilahirkan (oleh ibu atau bapa), dan tidak ada baginya saingan walau seorangpun)).
Perhatikan bahawa kandungan surah ini padat dengan ajaran tauhid, dan nama bagi surah ini ialah AL-IKHLAS. Maka jelas, bahawa erti al-ikhlas yang paling tepat ialah AT-TAUHID.
ii) syahadah yang kedua mengandungii maksud ‘ittiba’, iaitu mengikuti cara dan garis panduan yang telah digariskan oleh pesuruh Allah, Muhammad Rasulullah saw. Sesungguhnya Allah lah yang menurunkan kepada Rasulullah, apakah ibadah yang Dia mahukan dari hambaNya, bagaimanakah ibadah tersebut, dan bagaimanakah cara perlaksaan ibadah tersebut. Seterusnya Rasulullah saw menunjukkan kepada kita bagaimana cara perlaksanaannya, maka WAJIBLAH bagi kita mengikuti secara tepat cara yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Ini kerana andai kita cuba melakukan sesuatu selain dari yang diajarkan Rasulullah, bererti kita telah lari dari konteks yang Allah mahukan dari kita, atau dengan kata lain, ibadah kita tidak diterima.
Benarlah sabda Nabi saw di dalam menyokong hal ini, di dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, “Sesiapa yang beramal dengan amalan yang bukan dari kami (iaitu bukan dari contoh yang ditunjukkan Nabi saw dan para sahabat) maka amalan itu tertolak (tidak diterima Allah)”. Juga sabda baginda saw “Sesiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam hal kami ini (iaitu Islam) maka ianya tertolak (tidak diterima Allah)”.
Kerana itu, Ibnu Qayyiim menyimpulkan bahawa dua syarat diterima ibadah ialah, 1)isi hati yang tauhid kepada Allah swt, dan 2) mengikut cara ibadah yang ditunjukkan Muhammad Rasulullah saw.
Sambung Imam Ibnu Qayyim juga, syirik itu adalah musuh ketat dan lawan kepada tauhid, oleh itu sesiapa yang berlaku syirik kepada Allah, bererti dia telah mengingkari pengakuaanya syahadahnya yang pertama. Kerana itu kita dapati bahawa amalan syirik merupakan amalan yang mengeluarkan seseorang itu dari Islam.
Begitulah juga, lawan dan musuh ketat bagi mengikuti cara Rasul saw, ialah bidaah (iaitu mengada-adakan bentuk ibadah yang baru, yang tidak pernah ditunjukkan rasul saw). Maka sebagaiman syirik adalah pembatal syahadah pertama, amalan bidaah merupakan pembatal syahadah kedua.
Kesimpulannya, syirik dan bidaah, merupakan musuh no 1 bagi setiap Muslim yang beriman dengan Allah, RasulNya dan Hari Pembalasan.
Demikianlah sahaja coretan penulis buat masa kini. Semoga dapat dimanfaatkan bersama.
Sesungguhnya di dalam diri penulis, amat-amat mengharapkan agar kita semua bersama-sama mencari semula sunnah baginda saw. Hanya melalui sunnah baginda saw, kita semua mampu beroleh kebaikan di dunia dan di akhirat.
Ya Allah…sesungguhnya setiap hati yang bernyawa di muka bumi ini, samada dari kalangan jin atau manusia, adalah milikMu sepenuhnya. Engkau berikan hidayah kepada sesiapa yang Kau mahu, dan Kau sesatkan sesiapa sahaja yang Kamu mahu. Maka hindarkanlah kami dari najis syirik dan bidaah, sesungguhnya kami berlindung denganMu darinya.
Ya Allah…mencintai sunnah nabiMu Muhammad saw adalah sebahagian dari keimanan, bahkan itulah kunci bagi kami beroleh rahmat dan kasih sayangMu, di dunia dan di akhirat.
Ya Allah…kecintaanku padaMu melampaui kecintaanku kepada segala sesuatu, dan sungguh cintaku kepada kekasihMu Muhammad saw melebihi kecintaanku kepada sesiapapun di dunia ini. Sungguh aku berharap agar dapat kupupuk diri ini mengikuti jejak langkahnya…ya Allah bantulah aku dalam merindui dan menyintai dirinya.
Ya Allah…bantulah aku di dalam mengerjar cintaMu…Engkau berkata bahawa mereka yang banyak beramal dengan sunnah akan Engkau cintai…Ya Allah di saat aku membandingkan amalanku dengan kemurnian para rasul dan sahabat-sahabat mereka, terasa diriku jauh dariMu…maafkanlah kesalahan dan kekuranganku, dan walau sejauh manapun diriku dariMu, Engkau tetap tempat aku bergantung harapan, tempat aku meminta, mengadu dan memohon belas simpati.
Ya Allah…perkenankanlah doaku…andaikata Kau enggan mendengar permintaanku, maka kepada siapa lagi harus aku memohon…?
Allahumma Amin.
Ya Allah…sudahkah aku sampaikan pesananMu…?
Ustaz Mohd Azri bin Mohd Nasaruddin merupakan salah seorang ahli pasukan Penyelidikan & Pembangunan (R&D) Madrasah Al-Wahidah yang bertanggungjawab menggubal sukatan pelajaran bagi Program Pendidikan I-LIFT yang menawarkan pakej pendidikan berteraskan Islamisasi dan Integrasi Ilmu di peringkat taska, tadika & KAFA. Beliau juga merupakan fellow UniMAP, sedang menyambung pengajian di peringkat Ph.D Al-Quran & Sunnah (USIM). Penulis boleh dihubungi melalui www.al-wahidah.com & www.abu-intisaar.blogspot.com
By: Ustaz Mohd Azri Bin Mohd Nasaruddin

Ayat Sumpah Laknat

Mubahalah ialah masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat mendoa kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta.
Dalam sirah nabi peristiwa mubahalah pernah berlaku, Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad s.a.w.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan seorang pelayan dan majikan datang kepada Rasulullah SAW. Lalu Baginda mengkehendaki kedua-duanya mengadakan sumpah pengutukan. Tetapi salah seorang daripada keduanya berkata: “Janganlah engkau mengeluarkan sumpah kutukan itu. Demi Allah, sekiranya dia Nabi yang benar lalu dia meminta kita mengadakan sumpah kutukan, nescaya kita tidak akan mendapat keuntungan selama-lamanya”.

Perhatikan ayat 59 – 63 surah Ali ‘Imran seperti maksudnya di bawah:
59. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.
60. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.
61. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.
62. Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .
63. Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesunguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.
Sheikh Muhammad Abu Zahrah berkata: “Dalam ayat-ayat yang lalu Allah SWT menerangkan keadaan Nabi Isa a.s. sejak daripada kandungan dan apa yang berlaku kepadanya daripada mukjizat dan bagaimana ia adalah seorang Nabi yang soleh serta hamba Allah”.
Sebab nuzul ayat ke-59
Ayat ini diturunkan kerana wujud perdebatan antara rombongan kaum Nasrani dengan Nabi SAW. Rombongan tersebut berkata kepada Nabi SAW: “Apa sebab tuan mengata-ngata tuan kami? Nabi SAW menjawab: “Apa yang telah saya katakan?” Mereka berkata: “Tuan mengatakan Nabi Isa a.s itu hamba Allah SWT!”
Nabi SAW menjawab: “Benar! Dialah hamba Allah dan utusan-Nya Allah SWT pertaruhkan kalimat-Nya kepada anak dara yang tidak berkahwin iaitu Maryam”.
Mendengar jawapan Rasulullah SAW, mereka marah lalu berkata: “Adakah tuan pernah melihat seorang yang dilahirkan dengan tidak berayah? Kalau tuan orang yang benar tunjukkanlah kepada kami satu contoh”.
Maka Allah SWT turunkan ayat ini, bahawa sesungguhnya Isa a.s yang dijadikan oleh Allah SWT dengan cara yang mereka anggap pelik kerana ia terjadi dalam keadaan tidak berayah. Tidaklah kurang peliknya dengan misalan Adam AS dijadikan tanpa ayah dan ibu.
Adam a.s dijadikan Allah SWT daripada tanah. Kalaulah mereka sudah mengakui tentang kejadian Adam itu tidak pelik, maka tidak sepatutnya mereka mengingkari tentang kejadian Nabi Isa pula. Kerana jika Allah SWT menghendaki terjadinya sesuatu, Ia akan mengatakan: “Jadilah engkau!” Maka jadilah ia.
Iktibar dan fiqh ayat:
  1. Al-Maraghi berkata: “Ayat ini mengandungi perumpamaan yang sangat jelas, kerana titik persamaan kedua-dua belah pihak disebutkan dengan terang, sehingga dapat menghilangkan keraguan musuh Allah SWT. “Ini disebabkan orang yang mengingkari kejadian Nabi Isa tanpa ayah, sedangkan pada masa yang sama, dia mengakui kejadian Nabi Adam AS yang tidak berayah dan beribu, yang merupakan suatu perkara yang seharusnya tidak terjadi dan tidak dapat diterima oleh akal”.
  2. Hamka berkata: “Ayat ini membantah kedua pihak. Pertama yang tidak percaya sama sekali bahawa Nabi Isa lahir tidak dengan perantaraan bapa, sehingga dituduh dengan pelbagai macam tuduhan oleh orang Yahudi. Padahal mereka pun percaya Nabi Adam dijadikan daripada tanah tidak dengan bapa tidak dengan ibu. Orang zaman sekarang terlalu terpesona dengan teori Darwin.
  3. “Yang kedua ialah penyadaran bagi orang oleh kerana Nabi Isa tercipta dengan perantaraan Roh Allah, iaitu kalam-Nya yang menjelma menyerupai diri sebagai manusia, sebab itulah mereka tuhankan dia. Kerana perkara luar biasa itu dia dituhankan nescaya Nabi Adam yang terlebih dahulu dituhankan”.
Sebab nuzul ayat 60
Adalah diriwayatkan, bahawasanya Nabi SAW mengajak orang-orang Nasrani Najran itu beribtihal atau mubahalah, yakni berlaknat-laknatan dan sesiapa yang berdusta dialah yang ditimpa laknat. Tetapi mereka enggan.
Iktibar dan fiqh ayat:
  1. Al-Maraghi berkata: “Hendaklah kamu tetap teguh dengan keyakinan dan ketenanganmu dalam menuju kebenaran serta menjauhkan diri daripada sebarang keraguan”.
  2. Muhammad Quraish Shihab berkata: “Ayat ini menegaskan apa yang ditegaskan oleh ayat yang lalu bahawa apa yang telah Allah SWT wahyukan kepadamu ini wahai Muhammad itulah kebenaran mutlak. “Kemutlakan itu difahami daripada bentuk makrifat, yakni huruf alif dan lam yang menghiasi kata hak. Kebenaran mutlak itu datang dari Tuhanmu Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kasih padamu”.
  3. Hamka berkata: “Ayat ini membantah kepercayaan yang ganjil itu. Lalu dijelaskan bahawa Allah Maha Kuasa telah menciptakan Nabi Adam dari tanah tidak dengan perantaraan bapa dan ibu. “Datangnya Nabi Adam ke dunia bukanlah mempusaka dosa dan lahirnya Nabi Isa bukan pula penebus dosa melainkan sebagai Rasul-rasul Allah yang lain juga. Diutus sebagai pembimbing manusia menuju ke jalan yang diredai-Nya”.
Sebab nuzul ayat 61
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan seorang pelayan dan majikan datang kepada Rasulullah SAW. Lalu Baginda mengkehendaki kedua-duanya mengadakan sumpah pengutukan. Tetapi salah seorang daripada keduanya berkata: “Janganlah engkau mengeluarkan sumpah kutukan itu. Demi Allah, sekiranya dia Nabi yang benar lalu dia meminta kita mengadakan sumpah kutukan, nescaya kita tidak akan mendapat keuntungan selama-lamanya”.
Lalu kedua-duanya berkata kepada Nabi SAW, “Kami akan memberi tuan apa yang tuan minta”. Oleh itu, kirimkanlah bersama kami seorang lelaki yang tuan amanahkan.”
Lalu Nabi SAW bersabda: “Berdirilah engkau wahai Abu Ubaidah”. Tatkala dia sudah berdiri lalu Baginda bersabda: “Inilah orang kepercayaan daripada umat ini (Islam)”.
Abu Nu’aym meriwayatkan dalam kitab al-Dalail, daripada Ibn Abbas, “terdapat lapan orang Nasrani Najran datang kepada Rasulullah SAW. Antara mereka, terdapat seorang pelayan dan majikan. Lalu Allah SWT berfirman, Katakanlah, mari…, lalu mereka berkata, “Berilah kami tempoh tiga hari”.
Mereka kemudiannya pergi kepada kaum Yahudi Quraizah, Nadr dan Qainuqa’. Lalu mereka memberi isyarat agar mengadakan perdamaian dan jangan mengadakan sumpah saling mengutuk dengan Baginda. Mereka berkata, “Dialah Nabi yang kita temui di dalam Taurat kerana itu adakanlah perdamaian dengan Baginda dengan bayaran sebanyak 1,000 helai pakaian dibayarkan pada bulan Safar dan 1,000 lagi pada bulan Rejab serta beberapa dirham”.
Diriwayatkan bahawa Nabi SAW memilih Fatimah, Ali dan kedua-dua puteranya untuk mengerjakan mubahalah ini. Baginda kemudiannya keluar bersama mereka, sambil bersabda, “Jika aku membaca doa, hendaklah kamu mengaminkannya”.
Ibn Asakir meriwayatkan daripada Ja’far daripada bapanya, bahawa ketika ayat ini turun, beliau membawa Abu Bakar r.a bersama seorang anaknya, Umar r.a., bersama seorang anaknya, dan Uthman r.a bersama seorang anaknya. Tidak diragukan daripada ayat ini orang akan memahami bahawa Nabi SAW menyuruh golongan Ahli Kitab yang memperdebatkan peristiwa Nabi Isa dengan kaum mukmin agar mengumpulkan kaum lelaki, wanita dan anak-anak daripada kalangan mereka.
Nabi SAW juga mengumpulkan orang yang beriman, kaum lelaki, wanita dan anak-anak untuk melakukan doa mubahalah, iaitu memohon laknat ditimpakan kepada orang yang berdusta dalam persoalan Nabi Isa ini.
Iktibar dan fiqh ayat:
  1. Al-Maraghi berkata: “Dalam ayat di atas perkataan anak-anak soleh dan isteri disebut terlebih dahulu daripada dirinya sendiri. Padahal seseorang sentiasa memikirkan nasib anak dan isterinya, sebenarnya adalah untuk menyatakan betapa Nabi SAW telah berasa aman, memiliki kepercayaan yang penuh dan keyakinan yang teguh dengan kebenaran misinya, hinggakan Baginda menaruh kepercayaan sesuatu misbah yang tidak diinginkan akan menimpa mereka. “Ayat ini dinamakan ayat mubahalah, ertinya berdoa agar musuhnya mendapat laknat Allah”.
  2. Muhammad Quraish Shihab berkata: “Ayat ini diletakkan setelah ajakan memanggil anak dan isteri dan sebelum bermubahalah. Ini memberi isyarat bahawa Nabi SAW masih memberi kesempatan waktu yang relatif tidak singkat kepada yang diajak itu, untuk berfikir menyangkut soal mubahalah, kerana akibatnya sangat fatal”.
  3. Hamka berkata: “Mubahalah ialah bersumpah yang berat. Di dalam sumpah itu dihadirkan anak dan isteri dari kedua pihak yang bersangkutan, lalu diadakan untuk mempertahankan kebenaran masing-masing. “Jika kedua belah pihak masih tidak mengalah dan bertolak ansur maka tunggulah laknat-Nya kepada siapa yang masih mempertahankan pendirian yang salah. Inilah ajakan Rasulullah SAW kepada utusan-utusan Najran yang mempertahankan Nabi Isa adalah putera Allah SWT. “Ayat mubahalah adalah pembuktian antara yakin dan teguhnya orang Islam pada iman dan kepercayaannya. Keyakinan Tauhid adalah pegangan seluruh keluarga untuk mempertahankan diri hidup atau mati demi menegakkan kebenaran”.
Iktibar dan fiqh ayat ke-62:
  1. Al-Qurtubi berkata: “Isyarat pada sesungguhnya ini, kembali kepada al-Quran dan apa yang terkandung daripada kisah-kisah. Di namakan kisah kerana segala makna ikut mengikuti antara satu sama lain”.
  2. Sheikh Sya’rawi berkata: “Jika datang kisah daripada tuhan yang satu, maka kita yakin bahawa tiada lagi di sana Tuhan yang lain mendatangkan dengan kisah-kisah yang lain”.
  3. Al-Sonhadji berkata: “Ayat ini dijadikan hujah menolak dakwaan orang-orang Nasrani yang mengatakan, Allah SWT itu Tuhan yang ketiga dari tiga serangkai. Dan sesungguhnya Allah itu adalah Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Yakni tidak ada yang lebih perkasa dan lebih bijaksana daripada-Nya, dan tidak ada yang layak untuk menandingi-Nya selain Allah sendiri”.
Iktibar dan fiqh ayat ke-63:
  1. i. Ibn Kathir berkata: “Allah menutup ayat ini dengan menjelaskan siapa yang menyeleweng daripada kebenaran kepada kebatilan maka dialah yang sebenarnya merosakkan di muka bumi. Sedangkan Allah Maha Mengetahui dan pasti membalas perbuatan mereka kerana Dia Maha Berkuasa atas segala-galanya.
  2. ii. Hamka berkata: “Tasamuh (toleransi) beragama ini adalah dasar dari dakwah Islam. Yang menentukan petunjuk bagi manusia , bukanlah manusia melainkan Allah SWT. Tetapi orang tidaklah boleh berhenti mengadakan dakwah. “Suatu toleransi tidak disertai dengan perluasan dakwah akan menuju kehancuran. Kita harus berani mengikut Rasulullah SAW, berani berhadapan dengan pemeluk agama yang lain dengan mengadakan mubahalah. Sesungguhnya keberanian itu tidak akan wujud jika kita tidak mengerti agama kita sendiri”.
Berdasarkan ayat-ayat di atas jelas betapa rosaknya golongan Yahudi dan Nasrani apabila mempertuhankan Nabi Isa sedangkan apabila di ajak bermubahalah mereka begitu gentar dan takut seperti yang terjadi kepada golongan Nasara Najran.
Semoga Allah memelihara kita daripada kesesatan dan menjadikan kita sentiasa istiqamah. Amin.
DR. ZULKIFLI MOHAMAD ALBAKRI